PENGGUNAAN BIOMARKER UNTUK GGA

BIOMARKER UNTUK GGA

l Penggunaan Biomarker untuk GGA lebih diutamakan untuk tujuan penelitian.

l Biomarker untuk diagnosis GGA belum rutin digunakan untuk menegakkan diagnosis mengingat belum ada kesepakatan pemeriksaan biomarker yang terbaik untuk GGA, juga karena harganya mahal.

 

BIOMARKER UNTUK GGA

l Beberapa biomarker GGA telah diidentifikasi dan dilaporkan namu kegunaan biomarker ini sebagian besar terbatas pada penelitian, sedangkan penggunaan dalam klinis secara luas masih sangat terbatas.

l KDIGO menyatakan bahwa biomarker dapat mengidentifikasi pasien dengan GGA pada sebagian besar pasien tahap awal di masa depan.

 

 

DEFINISI ACUTE KIDNEY DISEASE (AKD) – PENYAKIT GINJAL AKUT (PGA)

l Acute Kidney Disease (AKD) – Penyakit Ginjal Akut (PGA) adalah abnormalitas fungsi dan atau struktur ginjal dengan implikasi terhadap kesehatan yang berlangsung <3 bulan, termasuk GGA.

l GGA yang berlanjut > 7 hari, serum kreatinin masih terus meningkat diperkirakan bukan hanya terjadi abnormalitas fungsi ginjal akan tetapi juga mulai terjadi abnormalitas struktur ginjal. Keadaan ini disepakai sebagai PGA, sedangkan apabila serum kreatinin tetap stabil maka disepakai sebagai non-PGA.

 

PENILAIAN RISIKO TERJADINYA GGA

l Risiko GGA harus diidentifikasi melalui profil faktor risiko atau melalui penilaian klinis berdasarkan adanya paparan dan kerentanan terjadinya GGA sehingga dapat dilakukan pencegahan secara dini.

PENILAIAN RISIKO TERJADINYA GGA

l Produksi urin dan kreatinin serum dipantau berkala minimal selama 48 jam setelah paparan.

 

PENJELASAN

l Sekitar 30% kasus GGA dapat dicegah.

l Pencetus GGA yang terbanyak pada komunitas dan perawatan rumah sakit adalah kondisi iskemik yang pada umumnya disebabkan oleh penyebab GGA pre Renal (lihat panduan 1).

l Timbulnya GGA iskemik dipengaruhi juga faktor keren tanan individu tersebut dan pencetus akut (lihat panduan 1).

 

PENCEGAHAN DAN PENGHAMBATAN PROGRESIVITAS GGA

l Semua pasien dengan GGA yang progresif, fungsi ginjal harus dievaluasi ulang, khususnya bila penyebab GGA tidak jelas.

l Urinalisis (urine dipstick) dilakukan pada semua pasien yang dicurigai GGA atau yang terdiagnosis GGA.

l Pada perawatan unit intensif, pencegahan GGA harus diterapkan pada semua pasien dengan menggunakan konsep perawatan GGA

l Pencegahan GGA secara umum meliputi optimalisasi hemodinamik dan status volume intravaskular, menghindari dan menghentikan pemakaian obat nefrotoksik, koreksi hiperglikemia dan aspek lainnya

 

PENJELASAN

l GGA stadium 1 sering swasirna (self-limiting).

l Bila kondisi GGA semakin progresif., harus dilakukan pendekatan klinis secara menyeluruh terkait evaluasi ulang faktor risiko dan penyebab GGA, khususnya bila penyebab GGA tidak jelas.

l Diagnosis rapidly progressive glomerulonephritis harus dipikirkan bila terjadi penurunan fungsi ginjal yang cepat dengan penyebab GGA tidak jelas atau terdapat hematuria dan proteinuria pada pemeriksaan urinalisis tanpa adanya infeksi saluran kemih atau trauma akibat kateter urin.

 

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Setelah identifikasi GGA dan faktor risikonya, maka tentukan penyebab GGA pre renal, renal atau post renal.

l Lakukan tatalaksana GGA sesuai dengan penyebabnya.

l Nilai hemodinamik dan status volume cairan pasien.

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Berikan terapi cairan dan/atau agen vasopresor dan/atau inotropik yang sesuai untuk mencapai keadaan hemodinamik yang optimal.

l Dilakukan pemantauan klinis pasien secara ketat pada saat pemberian terapi cairan dan/atau agen vasopresor dan/atau inotropik.

 

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Hingga saat ini, tidak ada terapi farmakologi spesifik yang terbukti mampu mengatasi GGA secara efektif (terutama akibat hipoperfusi dan/atau sepsis).

l Dilakukan pemantauan hemodinamik dan oksigenasi untuk mencegah perburukan pasien GGA.

 

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Tidak disarankan penggunaan diuretik dalam tatalaksana GGA, kecuali pada kasus dengan kelebihan cairan.

l Perlu dilakukan pemantauan dan pengendalian gula darah secara ketat.

 

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Manajemen nutrisi pada pasien GGA harus mempertimbangkan perubahan metabolik dan kondisi inflamasi yang berhubungan dengan GGA, penyakit yang mendasari dan komorbid, dan juga perubahan keseimbangan zat gizi akibat terapi pengganti ginjal

 

PENJELASAN

l Dalam keadaan hemodinamik yang tidak stabil dapat diatasi melalui pemberian airan dan/atau agen vasopresor dan/atau inotropik sesuai dengan protokol dan target hemodinamik yang dinginkan.

l Secara umum tatalaksana GGA dilakukan sesuai dengan etiologi (pre renal, renal atau post renal).

l Kendali gula darah yang ketat dapat menurunkan insidens dan tingkat keparahan GGA.

l Pada pasien sakit kritis, disarankan penggunaan terapi insulin dengan target glukosa plasma 110-149 mg/dl sesuai KDIG0 2012.

DEFINISI GGA

menurunnya fungsi ginjal yang terjadi secaratiba-tiba, umumnya terjadi selama beberapa jam sampai beberapa haridan mengakibatkan retensi limbah metabolisme dan disregulasihomeostasis cairan, elektrolit, dan asam basa.

 

DIAGNOSIS GGA

l Peningkatan serum kreatinin ≥0,3 mg/dL dalam 48 jam; atau

l Peningkatan serum kreatinin hingga ≥1,5 kali dari keadaanbasal yang diketahui atau diduga diketahui selama kurang dari 7 hari;atau

l Volume urin <0,5 ml/kgBB/jam selama 6 jam

 

KRITERIA GGA

l STADIUM 1

l KREATININ SERUM

1.5-1.9 kali nilai dasar,atau peningkatan≥0.3 mg/dL

l KELUARAN URIN

<0.5 mL/kgBB/jam selama 6-12 jam

 

l STADIUM 2

l KREATININ SERUM

2.0-2.9 kali nilai dasar

l KELUARAN URIN

<0.5 mL/kgBB/jam selama≥12 jam

 

l STADIUM  3

l KREATININ SERUM

3.0 kali nilai dasar,atau Peningkatan kreatinin serum≥4.0 mg/dL,atau Permulaan dimulai terapi pengganti ginjal, atau pada pasien<18  tahun,penurunan LFG <35 mL/menit per 1.73 m2

l KELUARAN URIN

<0.5 mL/kgBB/jam selama≥12 jam

 

PENJELASAN

l Penentuan definisi, diagnosis dan kriteria GGA menggunakan petunjuk dari KDIGO

l Serum kreatinin keadaan basal adalah nilai kreatinin yang didapatkan dari data sebelumnya dalam waktu 7 hari.

l Bila tidak didapatkan nilai basal, maka apabila didapatkan nilai kreatininyang menurun 0,3 mg/dl atau lebih pada hasil evaluasi dalam 48 jam sampai 7 hari setelah perawatan, dapat dikategorikan sebagai GGA.

l Pada dasarnya belum ada panduan yang jelas untuk menentukan nilai basalkreatinin pada pasien yang tidak diketahui nilai kreatinin sebelumnya.

l Pedoman yang bisa digunakan untuk perkiraan kadar kreatinin serumberdasarkan kelompok usia diajukan oleh kelompok ADQL (Acute

l DialysisQuality Inisiative). Perkiraan tersebut dibuat berdasarkan laporan penelitianMDRD (Modification ofdiet in renal disease).

 

CONTOH KASUS GGA

l Seorang pasien datang dengan nilai kreatinin serum 2,5 mg/dlkemudian didapatkan hasil kreatinin serum 2,2 mg/dl (atau lebihrendah) pada hasil evaluasi dalam 7 hari perawatan.

l Kasus tersebutdapat dikategorikan sebagai GGA.

 

FAKTOR RESIKO GGA

l Direkomendasikan untuk mengevaluasi faktor risiko GGA berdasarkankemungkinan adanya kerentanan (susceptibilities) dan paparan (exposure) yangterjadi.

l Faktor risiko adalah variabel yang dapat mempengaruhi atau meningkatkan kecenderungan terjadinya suatu penyakit kejadian tertentu.

l Bila didapatkan faktor risiko, maka harus diwaspadai kemungkinan Terjadi GG

l Kemungkinan terjadinya GGA setelah adanya paparan tidak selalu sama pada setiap individu oleh karena adanya pengaruh faktor kerentanan.

l Semakin banyak faktor paparan dan kerentanan yang didapatkan, maka akan meningkatkan risiko terjadinya GGA.

l Paparan dan Kerentanan dapat dilihat pada lampiran 2.

l Contoh obat nefrotoksik dapat dilihat pada lampiran 3.

l Apabila penderita memerlukan tindakan yang berpotensi terjadi GGA, maka harus dilakukan dilakukan evaluasi dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dibutuhkan untuk menilai fungsi ginjal dalam waktu kurang dari 48 jam.

PENYEBAB GGA

Penyebab GGA dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

1. Pre-renal GGA

2. Intrinsik GGA

3. Post-renal GGA

GGA pre-renal merupakan penyebab GGA paling banyak, sekitar 40-55% dari semua kasus

GGA pre-renal disebabkan oleh hipoperfusi ginjal yang disebabkan oleh penurunan volume intravaskule 

ETIOLOGI DARI GGA PRE-RENAL

Penurunan volume dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. hipovolemia yang berasal dari ginjal, seperti diuretik dan poliuria;

2. kehilangan cairan dari sistem gastrointestinal seperti muntah, diare;

3. kehilangan cairan dari kulit seperti luka bakar, sindrom Stevens-

4. Johnson; perdarahan, pankreatitis

Penurunan curah jantung dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Gagal jantung; emboli paru; infark miokard akut; gangguan katub

2. jantung; sindrom kompartemen perut

Vasodilatasi sistemik dapat disebabkan oleh hal-hal berikut: sepsis; anafilaksis; anestesi; overdosis obat

Vasokonstriksi arteriol aferen dapat disebabkanoleh hal-hal berikut: hiperkalsemia; obat-obatan- NSAID, amfoterisin B, inhibitor kalsineurin,norepinefrin, agen radiokontras 18/134

Sindrom hepatorenal

Sepsis dan gagal hati akut

Komplikasi transplantasi ginjal seperti delayed graft function GGA intrisik disebabkan oleh gangguan dari tubulointerstisial, pembuluh darah besar dan microvasculature

Penyebab vaskular (pembuluh besar dan kecil) TT, lain: obstruksi arteri ginjal – trombosis, emboli, diseksi, vaskulitis; obstruksi vena ginjal -Trombosis; mikroangiopati – thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP), hemolytic uremic syndrome (HUS), koagulasi intravascular     diseminata, preeklamsia; hipertensi maligna; skleroderma renal-crisis

Penyebab glomerulus meliputi: penyakit glomerulonefritis anti-GBM; granulomatosis dengan dengan poliangiitis (granulomatosis Wegener),granulomatosis eosinofilik dengan poliangiitis (sindrom Churg-Straus), poliangiitis mikroskopis:

Glomerulonefritis kompleks imun – Lupus, glomerulonefritis pasca infeksi, krioglobulinemia, glomerulonefritis membranoproliferatif primer

Etiologi sitotoksik meliputi: pigmen heme Rhabdomyolysis, hemolisis intravaskular, kristal – Sindrom lisis tumor, kejang, keracunan etilen glikol, vitamin C megadosis, asiklovir, indinavir, metotreksat

Terkait transplantasi : reaksi rejeksi seluler atau humoral

GGA post-renal disebabkan oleh obstruksi ureter, kandung kemih dan/atau urethra.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi penyebab GGA antara lain pemeriksaanlaboratorium (seperti urine lengkap dan fungsi ginjal)dan pemeriksaan radiologis (foto polos abdomen, ultrasonografi abdomen) sesuai indikasi dari dokter yang merawat

PENGGUNAAN BIOMARKER UNTUK GGA

 MONITORING HEMODINAMIK DAN OPTIMALISASI VOLUME (TERAPI CAIRAN)

Pada pasien dengan GGA atau berisiko mengalami GGA harus mencapai target tekanan darah yang spesifik dengan pemantauan hemodinamik yang ketat

Merekomendasikan target tekanan darah berikut pada pasien kritis untuk mencegah GGA dan pekembangan GGA:

1. Tekanan arteri rata-rata (MAP) >65-70mmHg

2. Tekanan darah diastolik (DBP) >55 mmHg

3. Tekanan perfusi rata-rata (MPP) >60 mmHg

4. Tekanan arteri rata-rata (MAP) >80-85 mmHg pada pasien dengan hipertensi kronis

Merekomendasikan penggunaan kristaloid untuk resusitasi cairan

Merekomendasikan untuk tidak menggunakan starch untuk resusitasi cairan

Menyarankan untuk tidak menggunakan gelatin atau dextrans untuk resusitasi cairan

Menyarankan menggunakan balanced kristaloid normal saline 0,9% pada pasien yang membutuhkan resusitasi volume besar

Menyarankan jika normal saline 0,9% digunakan untuk resusitasi dala volume yang cukup besar, perlu dilakukan pemantauan terjadinya hiperkloremia

PENJELASAN

Pemberian cairan pada pasien GGA harus mempertimbangkan jumlah dan tipe cairan (kristaloid/koloid) serta kecepatan pemberian cairan yang disesuaikan dengan keadaan pasien secara individual.

Pada kasus GGA dengan perdarahan dapat dipertimbangkan pemberian jenis produk darah sesuai dengan kebutuhan pasien.

Pada pasien hipovolemia, pemberian cairan diberikan melalui infus cepat 250 ml dan dilakukan pemantauan klinis secara ketat untuk menghindari komplikasi edema paru.

Pemilihan cairan harus mempertimbangkan beberapa kondisi berikut:

1. Bila tidak ada syok hemoragik, disarankan penggunaan cairan kristaloid isotonis daripada koloid (albumin atau starches) sebagai terapi inisiasi ekspansi intravaskular pada pasien berisiko GGA atau dengan GGA.

2. Pemilihan cairan untuk resusitasi pada sepsis berat harus mempertimbangkan efek samping ke ginjal. Starches berpotensi meningkatkan insidens GGA, kebutuhan terapi pengganti ginjal, dan kematian.

3. Pasca operasi, respons fisiologis tubuh adalah menahan natrium dan air. Asupan natrium harian disarankan antara 70-100 mmol/hari. Pemilihan cairan pasca operasi harus diperhatikan.

Penilaian kecukupan cairan dapat dinilai melalui:

1. Pemeriksaan fisik: pengukuran tekanan darah termasuk tekanan darah postural; tren kecenderungan denyut jantung, capillary refill time: tekanan vena jugular (jugular venous pressure); adanya bunyi jantung tambahan, edema paru, atau edema perifer; turgor kulit, mukosa lidah, mukosa membrane dan aksila; lembar penilaian serial berat badan, balans cairan masuk-keluar

Pengukuran pre-load jantung (tekanan venasentral/central venous pressure, pulmonary capillary wedge pressure): pengukuran ini dapat dilakukan, namun bukan merupakan prediktor yang konsisten terhadap respons volume, terutama pada pasien sakit kritis.

Pengangkatan kedua tungkai secara pasif dapat memprediksi respons cairan pada pasien sakit kritis.

Pada pasien GGA dengan syok sepsis, norepinefrin merupakan vasopresor pilihan dengan target MAP 65-70 mmHg.

Merekomendasikan target tekanan darah berikut pada pasien kritis untuk mencegah

l GGA dan perkembangan GGA :

1. Tekanan arteri rata-rata (MAP) >65-70 mmHg.

2. Tekanan darah diastolik (DBP) >55 mm Hg.

3. Tekanan perfusi rata-rata (MPP) >60 mmHg

4. MAP >80-85 mm Hg pada pasien dengan hipertensi kronis

 

TERAPI DIURETIK

l Tidak merekomendasikan pemakaian diuretik untuk pencegahan GGA

l Tidak merekomendasikan pemakaian diuretik untuk terapi GGA, kecuali untuk kasus overload

l Apabila diperlukan cara pemberian diuretik bisa dengan dosis kontinu atau intermiten (hasil studi menunjukkan tidak ada perbedaan luaran)

 

PENJELASAN

INDIKASI

l Tidak direkomendasikan memakai diuretik secara rutin kecuali untuk tatalaksana overload cairan

l Oligouria pada pasien yang sudah mendapatkan resusitasi cairan yang adekuat

KONTRA INDIKASI

l Kontra indikasi: alergi, hipovolemia atau dehidrasi dan anuria

l Cara pemberian:

1. Furosemide dapat diberikan secara intermiten atau kontinu: belum ada cukup bukti yang dapat membuktikan bila pemberian secara kontinu lebih baik dibandingkan pemberian secara intermiten

2. 5-20 atau 40 mg iv bolus pada pasien dengan fungsi ginjal normal sebelumnya, atau dosis yang lebih tinggi 80-250 mg pada pasien dengan PGK sebelumnya

3. Dosis kontinu: 5-40 mg/jam atau rata-rata 0,05-0,5 mg/kgBB/jam

l Furosemide Stress Test (FST):

1. Pada pasien GGA euvolemik/hipervolemik untuk memprediksi risiko GGA berat dan kebutuhan terapi pengganti ginjal

2. Untuk pasien yang belum pernah mendapat terapi loop diuretik 1-7 hari sebelumnya, dosis yang diberikan l mg/kg bb, di lain pihak untuk pasien yang sudah pernah mendapat terapi loop diuretik 1-7 hari sebelumnya dosis yang diberikan 1-1,5 mg/kgbb furosemide iv

l Observasi 2 jam kemudian:

1. Respon positif bila produksi urin 200 cc dalam 2 jam (prediktor untuk jatuh ke GGA stadium 3 dan kemungkinan membutuhkan terapi pengganti ginjal)

2. Respon negatif bila produksi urin kurang dari 200 cc dalam 2 jam

3. Efek terhadap progresivitas GGA: Furosemide tidak memberikan efek positif terhadap recovery GGA (dan mencegah kebutuhan renal support). Beberapa penelitian RCT menalaah pengaruh diuretik pada survival pasien dengan GGA. Sebagian besar mendapatkan hasil yang tidak bermakna dan masih kontroversial.

 

TERAPI VASOPRESSOR

l Vasopressor diberikan bila MAP <65 mHg bersamaan dengan pemberian terapi cairan

l Noradrenalin sebagai pilihan utama vasopressor pada pasien GGA dengan syok

l Pada syok yang refrakter bisa dikombinasikan dengan vassopressin

 

PENJELASAN

l Mekanisme autoregulasi mampu mempertahankan LFG bila MAP >65

l Noradrenalin mampu memperbaiki creatinine  clearence (CrCI) 6-8 jam setelah pemberian noradrenalin dengan efek samping aritmia yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan vasoaktif lain seperti dopamin.

l Pada syok yang refrakter dengan noradrenalin bisa dikombinasikan dengan vassopressin:

1. Dosis: 0,01-0,03 U/menit

2. Pada pasien syok vasopressin menyebabkan vasokontriksi melalui VIRS (reseptor vasopressin tipe 1)

3. Indikasi: syok sepsis dan GGA, menurunkan progresivitas gagal ginjal namun belum terbukti menurunkan mortalitas

KONSENSUS GANGGUAN GINJAL AKUTPERNEFRI 2023

PENGGUNAAN BIOMARKER UNTUK GGA

 

BIOMARKER UNTUK GGA

l Penggunaan Biomarker untuk GGA lebih diutamakan untuk tujuan penelitian.

l Biomarker untuk diagnosis GGA belum rutin digunakan untuk menegakkan diagnosis mengingat belum ada kesepakatan pemeriksaan biomarker yang terbaik untuk GGA, juga karena harganya mahal.

 

BIOMARKER UNTUK GGA

l Beberapa biomarker GGA telah diidentifikasi dan dilaporkan namu kegunaan biomarker ini sebagian besar terbatas pada penelitian, sedangkan penggunaan dalam klinis secara luas masih sangat terbatas.

l KDIGO menyatakan bahwa biomarker dapat mengidentifikasi pasien dengan GGA pada sebagian besar pasien tahap awal di masa depan.

 

 

DEFINISI ACUTE KIDNEY DISEASE (AKD) – PENYAKIT GINJAL AKUT (PGA)

l Acute Kidney Disease (AKD) – Penyakit Ginjal Akut (PGA) adalah abnormalitas fungsi dan atau struktur ginjal dengan implikasi terhadap kesehatan yang berlangsung <3 bulan, termasuk GGA.

l GGA yang berlanjut > 7 hari, serum kreatinin masih terus meningkat diperkirakan bukan hanya terjadi abnormalitas fungsi ginjal akan tetapi juga mulai terjadi abnormalitas struktur ginjal. Keadaan ini disepakai sebagai PGA, sedangkan apabila serum kreatinin tetap stabil maka disepakai sebagai non-PGA.

 

PENILAIAN RISIKO TERJADINYA GGA

l Risiko GGA harus diidentifikasi melalui profil faktor risiko atau melalui penilaian klinis berdasarkan adanya paparan dan kerentanan terjadinya GGA sehingga dapat dilakukan pencegahan secara dini.

PENILAIAN RISIKO TERJADINYA GGA

l Produksi urin dan kreatinin serum dipantau berkala minimal selama 48 jam setelah paparan.

 

PENJELASAN

l Sekitar 30% kasus GGA dapat dicegah.

l Pencetus GGA yang terbanyak pada komunitas dan perawatan rumah sakit adalah kondisi iskemik yang pada umumnya disebabkan oleh penyebab GGA pre Renal (lihat panduan 1).

l Timbulnya GGA iskemik dipengaruhi juga faktor keren tanan individu tersebut dan pencetus akut (lihat panduan 1).

 

PENCEGAHAN DAN PENGHAMBATAN PROGRESIVITAS GGA

l Semua pasien dengan GGA yang progresif, fungsi ginjal harus dievaluasi ulang, khususnya bila penyebab GGA tidak jelas.

l Urinalisis (urine dipstick) dilakukan pada semua pasien yang dicurigai GGA atau yang terdiagnosis GGA.

l Pada perawatan unit intensif, pencegahan GGA harus diterapkan pada semua pasien dengan menggunakan konsep perawatan GGA

l Pencegahan GGA secara umum meliputi optimalisasi hemodinamik dan status volume intravaskular, menghindari dan menghentikan pemakaian obat nefrotoksik, koreksi hiperglikemia dan aspek lainnya

 

PENJELASAN

l GGA stadium 1 sering swasirna (self-limiting).

l Bila kondisi GGA semakin progresif., harus dilakukan pendekatan klinis secara menyeluruh terkait evaluasi ulang faktor risiko dan penyebab GGA, khususnya bila penyebab GGA tidak jelas.

l Diagnosis rapidly progressive glomerulonephritis harus dipikirkan bila terjadi penurunan fungsi ginjal yang cepat dengan penyebab GGA tidak jelas atau terdapat hematuria dan proteinuria pada pemeriksaan urinalisis tanpa adanya infeksi saluran kemih atau trauma akibat kateter urin.

 

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Setelah identifikasi GGA dan faktor risikonya, maka tentukan penyebab GGA pre renal, renal atau post renal.

l Lakukan tatalaksana GGA sesuai dengan penyebabnya.

l Nilai hemodinamik dan status volume cairan pasien.

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Berikan terapi cairan dan/atau agen vasopresor dan/atau inotropik yang sesuai untuk mencapai keadaan hemodinamik yang optimal.

l Dilakukan pemantauan klinis pasien secara ketat pada saat pemberian terapi cairan dan/atau agen vasopresor dan/atau inotropik.

 

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Hingga saat ini, tidak ada terapi farmakologi spesifik yang terbukti mampu mengatasi GGA secara efektif (terutama akibat hipoperfusi dan/atau sepsis).

l Dilakukan pemantauan hemodinamik dan oksigenasi untuk mencegah perburukan pasien GGA.

 

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Tidak disarankan penggunaan diuretik dalam tatalaksana GGA, kecuali pada kasus dengan kelebihan cairan.

l Perlu dilakukan pemantauan dan pengendalian gula darah secara ketat.

 

TERAPI SUPORTIF GGA SECARA UMUM

l Manajemen nutrisi pada pasien GGA harus mempertimbangkan perubahan metabolik dan kondisi inflamasi yang berhubungan dengan GGA, penyakit yang mendasari dan komorbid, dan juga perubahan keseimbangan zat gizi akibat terapi pengganti ginjal

 

PENJELASAN

l Dalam keadaan hemodinamik yang tidak stabil dapat diatasi melalui pemberian airan dan/atau agen vasopresor dan/atau inotropik sesuai dengan protokol dan target hemodinamik yang dinginkan.

l Secara umum tatalaksana GGA dilakukan sesuai dengan etiologi (pre renal, renal atau post renal).

l Kendali gula darah yang ketat dapat menurunkan insidens dan tingkat keparahan GGA.

l Pada pasien sakit kritis, disarankan penggunaan terapi insulin dengan target glukosa plasma 110-149 mg/dl sesuai KDIG0 2012.

DEFINISI GGA

menurunnya fungsi ginjal yang terjadi secaratiba-tiba, umumnya terjadi selama beberapa jam sampai beberapa haridan mengakibatkan retensi limbah metabolisme dan disregulasihomeostasis cairan, elektrolit, dan asam basa.

 

DIAGNOSIS GGA

l Peningkatan serum kreatinin ≥0,3 mg/dL dalam 48 jam; atau

l Peningkatan serum kreatinin hingga ≥1,5 kali dari keadaanbasal yang diketahui atau diduga diketahui selama kurang dari 7 hari;atau

l Volume urin <0,5 ml/kgBB/jam selama 6 jam

 

KRITERIA GGA

l STADIUM 1

l KREATININ SERUM

1.5-1.9 kali nilai dasar,atau peningkatan≥0.3 mg/dL

l KELUARAN URIN

<0.5 mL/kgBB/jam selama 6-12 jam

 

l STADIUM 2

l KREATININ SERUM

2.0-2.9 kali nilai dasar

l KELUARAN URIN

<0.5 mL/kgBB/jam selama≥12 jam

 

l STADIUM  3

l KREATININ SERUM

3.0 kali nilai dasar,atau Peningkatan kreatinin serum≥4.0 mg/dL,atau Permulaan dimulai terapi pengganti ginjal, atau pada pasien<18  tahun,penurunan LFG <35 mL/menit per 1.73 m2

l KELUARAN URIN

<0.5 mL/kgBB/jam selama≥12 jam

 

PENJELASAN

l Penentuan definisi, diagnosis dan kriteria GGA menggunakan petunjuk dari KDIGO

l Serum kreatinin keadaan basal adalah nilai kreatinin yang didapatkan dari data sebelumnya dalam waktu 7 hari.

l Bila tidak didapatkan nilai basal, maka apabila didapatkan nilai kreatininyang menurun 0,3 mg/dl atau lebih pada hasil evaluasi dalam 48 jam sampai 7 hari setelah perawatan, dapat dikategorikan sebagai GGA.

l Pada dasarnya belum ada panduan yang jelas untuk menentukan nilai basalkreatinin pada pasien yang tidak diketahui nilai kreatinin sebelumnya.

l Pedoman yang bisa digunakan untuk perkiraan kadar kreatinin serumberdasarkan kelompok usia diajukan oleh kelompok ADQL (Acute

l DialysisQuality Inisiative). Perkiraan tersebut dibuat berdasarkan laporan penelitianMDRD (Modification ofdiet in renal disease).

 

CONTOH KASUS GGA

l Seorang pasien datang dengan nilai kreatinin serum 2,5 mg/dlkemudian didapatkan hasil kreatinin serum 2,2 mg/dl (atau lebihrendah) pada hasil evaluasi dalam 7 hari perawatan.

l Kasus tersebutdapat dikategorikan sebagai GGA.

 

FAKTOR RESIKO GGA

l Direkomendasikan untuk mengevaluasi faktor risiko GGA berdasarkankemungkinan adanya kerentanan (susceptibilities) dan paparan (exposure) yangterjadi.

l Faktor risiko adalah variabel yang dapat mempengaruhi atau meningkatkan kecenderungan terjadinya suatu penyakit kejadian tertentu.

l Bila didapatkan faktor risiko, maka harus diwaspadai kemungkinan Terjadi GG

l Kemungkinan terjadinya GGA setelah adanya paparan tidak selalu sama pada setiap individu oleh karena adanya pengaruh faktor kerentanan.

l Semakin banyak faktor paparan dan kerentanan yang didapatkan, maka akan meningkatkan risiko terjadinya GGA.

l Paparan dan Kerentanan dapat dilihat pada lampiran 2.

l Contoh obat nefrotoksik dapat dilihat pada lampiran 3.

l Apabila penderita memerlukan tindakan yang berpotensi terjadi GGA, maka harus dilakukan dilakukan evaluasi dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dibutuhkan untuk menilai fungsi ginjal dalam waktu kurang dari 48 jam.

 

PENYEBAB GGA

l Penyebab GGA dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

1. Pre-renal GGA

2. Intrinsik GGA

3. Post-renal GGA

l GGA pre-renal merupakan penyebab GGA paling banyak, sekitar 40-55% dari semua kasus

l GGA pre-renal disebabkan oleh hipoperfusi ginjal yang disebabkan oleh penurunan volume intravaskule

 

ETIOLOGI DARI GGA PRE-RENAL

l Penurunan volume dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. hipovolemia yang berasal dari ginjal, seperti diuretik dan poliuria;

2. kehilangan cairan dari sistem gastrointestinal seperti muntah, diare;

3. kehilangan cairan dari kulit seperti luka bakar, sindrom Stevens-

4. Johnson; perdarahan, pankreatitis

l Penurunan curah jantung dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Gagal jantung; emboli paru; infark miokard akut; gangguan katub

2. jantung; sindrom kompartemen perut

l Vasodilatasi sistemik dapat disebabkan oleh hal-hal berikut: sepsis; anafilaksis; anestesi; overdosis obat

l Vasokonstriksi arteriol aferen dapat disebabkanoleh hal-hal berikut: hiperkalsemia; obat-obatan- NSAID, amfoterisin B, inhibitor kalsineurin,norepinefrin, agen radiokontras 18/134

l Sindrom hepatorenal

l Sepsis dan gagal hati akut

l Komplikasi transplantasi ginjal seperti delayed graft function GGA intrisik disebabkan oleh gangguan dari tubulointerstisial, pembuluh darah besar dan microvasculature

l Penyebab vaskular (pembuluh besar dan kecil) TT, lain: obstruksi arteri ginjal – trombosis, emboli, diseksi, vaskulitis; obstruksi vena ginjal -Trombosis; mikroangiopati – thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP), hemolytic uremic syndrome (HUS), koagulasi intravascular diseminata, preeklamsia; hipertensi maligna; skleroderma renal-crisis

l Penyebab glomerulus meliputi: penyakit glomerulonefritis anti-GBM; granulomatosis dengan dengan poliangiitis (granulomatosis Wegener),granulomatosis eosinofilik dengan poliangiitis (sindrom Churg-Straus), poliangiitis mikroskopis:

l Glomerulonefritis kompleks imun – Lupus, glomerulonefritis pasca infeksi, krioglobulinemia, glomerulonefritis membranoproliferatif primer

l Etiologi sitotoksik meliputi: pigmen heme Rhabdomyolysis, hemolisis intravaskular, kristal – Sindrom lisis tumor, kejang, keracunan etilen glikol, vitamin C megadosis, asiklovir, indinavir, metotreksat

l Terkait transplantasi : reaksi rejeksi seluler atau humoral

l GGA post-renal disebabkan oleh obstruksi ureter, kandung kemih dan/atau urethra.

l Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi penyebab GGA antara lain pemeriksaanlaboratorium (seperti urine lengkap dan fungsi ginjal)dan pemeriksaan radiologis (foto polos abdomen, ultrasonografi abdomen) sesuai indikasi dari dokter yang merawat

 

PENGGUNAAN BIOMARKER UNTUK GGA

 

 

 

MONITORING HEMODINAMIK DAN OPTIMALISASI VOLUME (TERAPI CAIRAN)

l Pada pasien dengan GGA atau berisiko mengalami GGA harus mencapai target tekanan darah yang spesifik dengan pemantauan hemodinamik yang ketat

l Merekomendasikan target tekanan darah berikut pada pasien kritis untuk mencegah GGA dan pekembangan GGA:

1. Tekanan arteri rata-rata (MAP) >65-70mmHg

2. Tekanan darah diastolik (DBP) >55 mmHg

3. Tekanan perfusi rata-rata (MPP) >60 mmHg

4. Tekanan arteri rata-rata (MAP) >80-85 mmHg pada pasien dengan hipertensi kronis

l Merekomendasikan penggunaan kristaloid untuk resusitasi cairan

l Merekomendasikan untuk tidak menggunakan starch untuk resusitasi cairan

l Menyarankan untuk tidak menggunakan gelatin atau dextrans untuk resusitasi cairan

l Menyarankan menggunakan balanced kristaloid normal saline 0,9% pada pasien yang membutuhkan resusitasi volume besar

l Menyarankan jika normal saline 0,9% digunakan untuk resusitasi dala volume yang cukup besar, perlu dilakukan pemantauan terjadinya hiperkloremia

PENJELASAN

l Pemberian cairan pada pasien GGA harus mempertimbangkan jumlah dan tipe cairan (kristaloid/koloid) serta kecepatan pemberian cairan yang disesuaikan dengan keadaan pasien secara individual.

l Pada kasus GGA dengan perdarahan dapat dipertimbangkan pemberian jenis produk darah sesuai dengan kebutuhan pasien.

l Pada pasien hipovolemia, pemberian cairan diberikan melalui infus cepat 250 ml dan dilakukan pemantauan klinis secara ketat untuk menghindari komplikasi edema paru.

l Pemilihan cairan harus mempertimbangkan beberapa kondisi berikut:

1. Bila tidak ada syok hemoragik, disarankan penggunaan cairan kristaloid isotonis daripada koloid (albumin atau starches) sebagai terapi inisiasi ekspansi intravaskular pada pasien berisiko GGA atau dengan GGA.

2. Pemilihan cairan untuk resusitasi pada sepsis berat harus mempertimbangkan efek samping ke ginjal. Starches berpotensi meningkatkan insidens GGA, kebutuhan terapi pengganti ginjal, dan kematian.

3. Pasca operasi, respons fisiologis tubuh adalah menahan natrium dan air. Asupan natrium harian disarankan antara 70-100 mmol/hari. Pemilihan cairan pasca operasi harus diperhatikan.

l Penilaian kecukupan cairan dapat dinilai melalui:

1. Pemeriksaan fisik: pengukuran tekanan darah termasuk tekanan darah postural; tren kecenderungan denyut jantung, capillary refill time: tekanan vena jugular (jugular venous pressure); adanya bunyi jantung tambahan, edema paru, atau edema perifer; turgor kulit, mukosa lidah, mukosa membrane dan aksila; lembar penilaian serial berat badan, balans cairan masuk-keluar

l Pengukuran pre-load jantung (tekanan venasentral/central venous pressure, pulmonary capillary wedge pressure): pengukuran ini dapat dilakukan, namun bukan merupakan prediktor yang konsisten terhadap respons volume, terutama pada pasien sakit kritis.

l Pengangkatan kedua tungkai secara pasif dapat memprediksi respons cairan pada pasien sakit kritis.

l Pada pasien GGA dengan syok sepsis, norepinefrin merupakan vasopresor pilihan dengan target MAP 65-70 mmHg.

l Merekomendasikan target tekanan darah berikut pada pasien kritis untuk mencegah

 

 

l GGA dan perkembangan GGA :

1. Tekanan arteri rata-rata (MAP) >65-70 mmHg.

2. Tekanan darah diastolik (DBP) >55 mm Hg.

3. Tekanan perfusi rata-rata (MPP) >60 mmHg

4. MAP >80-85 mm Hg pada pasien dengan hipertensi kronis

 

TERAPI DIURETIK

l Tidak merekomendasikan pemakaian diuretik untuk pencegahan GGA

l Tidak merekomendasikan pemakaian diuretik untuk terapi GGA, kecuali untuk kasus overload

l Apabila diperlukan cara pemberian diuretik bisa dengan dosis kontinu atau intermiten (hasil studi menunjukkan tidak ada perbedaan luaran)

 

PENJELASAN

INDIKASI

l Tidak direkomendasikan memakai diuretik secara rutin kecuali untuk tatalaksana overload cairan

l Oligouria pada pasien yang sudah mendapatkan resusitasi cairan yang adekuat

KONTRA INDIKASI

l Kontra indikasi: alergi, hipovolemia atau dehidrasi dan anuria

l Cara pemberian:

1. Furosemide dapat diberikan secara intermiten atau kontinu: belum ada cukup bukti yang dapat membuktikan bila pemberian secara kontinu lebih baik dibandingkan pemberian secara intermiten

2. 5-20 atau 40 mg iv bolus pada pasien dengan fungsi ginjal normal sebelumnya, atau dosis yang lebih tinggi 80-250 mg pada pasien dengan PGK sebelumnya

3. Dosis kontinu: 5-40 mg/jam atau rata-rata 0,05-0,5 mg/kgBB/jam

l Furosemide Stress Test (FST):

1. Pada pasien GGA euvolemik/hipervolemik untuk memprediksi risiko GGA berat dan kebutuhan terapi pengganti ginjal

2. Untuk pasien yang belum pernah mendapat terapi loop diuretik 1-7 hari sebelumnya, dosis yang diberikan l mg/kg bb, di lain pihak untuk pasien yang sudah pernah mendapat terapi loop diuretik 1-7 hari sebelumnya dosis yang diberikan 1-1,5 mg/kgbb furosemide iv

l Observasi 2 jam kemudian:

1. Respon positif bila produksi urin 200 cc dalam 2 jam (prediktor untuk jatuh ke GGA stadium 3 dan kemungkinan membutuhkan terapi pengganti ginjal)

2. Respon negatif bila produksi urin kurang dari 200 cc dalam 2 jam

3. Efek terhadap progresivitas GGA: Furosemide tidak memberikan efek positif terhadap recovery GGA (dan mencegah kebutuhan renal support). Beberapa penelitian RCT menalaah pengaruh diuretik pada survival pasien dengan GGA. Sebagian besar mendapatkan hasil yang tidak bermakna dan masih kontroversial.

 

TERAPI VASOPRESSOR

l Vasopressor diberikan bila MAP <65 mHg bersamaan dengan pemberian terapi cairan

l Noradrenalin sebagai pilihan utama vasopressor pada pasien GGA dengan syok

l Pada syok yang refrakter bisa dikombinasikan dengan vassopressin

 

PENJELASAN

l Mekanisme autoregulasi mampu mempertahankan LFG bila MAP >65

l Noradrenalin mampu memperbaiki creatinine  clearence (CrCI) 6-8 jam setelah pemberian noradrenalin dengan efek samping aritmia yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan vasoaktif lain seperti dopamin.

l Pada syok yang refrakter dengan noradrenalin bisa dikombinasikan dengan vassopressin:

1. Dosis: 0,01-0,03 U/menit

2. Pada pasien syok vasopressin menyebabkan vasokontriksi melalui VIRS (reseptor vasopressin tipe 1)

3. Indikasi: syok sepsis dan GGA, menurunkan progresivitas gagal ginjal namun belum terbukti menurunkan mortalitas

 

SELAMAT TAHUN BARU 2024

PROMO TAHUN BARU
PRAKTEK DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM : “INTERNIST CARE PROMO 🙌

SELAMAT TAHUN BARU 2024

PROMO TAHUN BARU
PRAKTEK DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM : “INTERNIST CARE PROMO 🙌

✅Pemeriksaan USG Jantung (Disc 50%)
✅Pemeriksaan USG Abdomen (Disc 50%)
✅Biaya Konsultasi Dokter (Disc 30%)
✅Gratis Cek Gula Darah & Kolesterol (Stik)

Periode Mulai 01 Januari s/d 31 Januari 2024

DAPATKAN PROMONYA SEKARANG hanya di INTERNIST CARE🙌

Salam Hidup Sehat 🙏

Promo ANNIVERSARY 1 Tahun Internist Care


Praktek Dokter Spesialis Penyakit Dalam : “Internist Care” mengadakan PROMO 🙌

✅Pemeriksaan USG Jantung (Disc 50%)
✅Pemeriksaan USG Abdomen (Disc 50%)
✅Biaya Konsultasi (Disc 40%)

Periode Mulai 07 September s/d 07 Oktober 2023

Dapatkan promonya sekarang hanya di INTERNIST CARE🙌

#Salam Hidup Sehat

TUBERKULOSIS PADA IBU HAMIL

Tuberkulosis (TB) yang tidak diobati merupakan penyakit yang lebih berbahaya bagi wanita hamil dan janinnya dari pada pengobatannya. Bayi yang lahir dari ibu penderita TB mungkin memiliki berat badan lahir lebih rendah dari pada mereka yang lahir dari ibu tanpa. Meskipun obat yang digunakan dalam rejimen pengobatan awal untuk TB melewati plasenta, obat tersebut tampaknya tidak memiliki efek berbahaya pada janin.

Pengujian

Tes kulit tuberkulin dianggap valid dan aman digunakan selama kehamilan. Tes darah TB aman digunakan selama kehamilan, tetapi belum dievaluasi untuk mendiagnosis infeksi Tuberkulosis pada wanita hamil. Tes lain diperlukan untuk menunjukkan apakah seseorang memiliki penyakit TBC atau tidak.

Diagnosis Tuberkulosis

Diagnosis definitif tuberkulosis terutama melibatkan deteksi dan isolasi Mycobacterium tuberculosis – agen penyebab tuberkulosis. Itu dapat dikonfirmasi dengan langkah-langkah yang diperlukan seperti:

  1. Pemeriksaan fisik umum
  2. Tes darah tuberkulosis
  3. Tes dahak
  4. Pencitraan
  5. Bronkoskopi
  6. Tes kulit tuberkulin
  7. Tes pelepasan interferon-gamma (IGRA)

Patofisiologi Penyakit Tuberkulosis (TB)

Etiologi tuberkulosis disebabkan oleh droplet yang mengandung Mycobacterium tuberculosis (Koch’s bacillus) . Droplet nuklei yang mengandung basil tuberkel dapat tetap tersuspensi dalam aliran udara ruangan selama beberapa jam, yang dapat meningkatkan peluang penularan. Tampaknya kontak dengan fomites (misalnya permukaan yang terkontaminasi, makanan, respirator pribadi) tidak mendorong penularan penyakit.Basil tuberkel menyebabkan infeksi paru-paru ketika dibawa dalam tetesan kecil yang mencapai ruang alveolar (alveoli adalah kantung udara kecil di ujung bronkiolus tempat pertukaran gas terjadi). Jika sistem kekebalan gagal menghilangkan infeksi, basil berkembang biak, membentuk granuloma (kelompok sel darah putih kecil yang terbentuk sebagai reaksi terhadap infeksi) yang disebut tuberkel. Patogenesis tuberkulosis yang sebenarnya dimulai dalam 2-6 minggu setelah infeksi dan dengan perkembangan respon imun yang diperantarai sel (CMI) oleh sistem imun. Melalui respon CMI, proliferasi bakteri dapat dikendalikan. Namun, dalam kasus respons yang tidak memadai, jaringan paru-paru dapat dihancurkan secara progresif. Jika tidak diobati, tuberkulosis dapat menyebarkan bakteri ke seluruh tubuh, menyebabkan tuberkulosis diseminata atau milier. Tanpa pengobatan, 80% kasus mengakibatkan kematian, sedangkan pasien yang tersisa dapat mengembangkan penyakit kronis dengan episode kerusakan jaringan berulang dan perubahan fibrotik. Pemberantasan spontan lengkap dari basil jarang terjadi.

Komplikasi Penyakit Tuberkulosis (TB)

Tuberkulosis juga mengakibatkan morbiditas dari komplikasi akut dan kronis, yang dapat disebabkan oleh gangguan metabolik, sistemik, infeksi, atau struktural yang disebabkan oleh penyakit. Kondisi komorbiditas, termasuk diabetes, HIV dan transplantasi organ, semakin memperumit pengobatan tuberkulosis. Beberapa komplikasi terkait tuberkulosis berdasarkan situs anatomi dapat mencakup beberapa hal berikut:

  1. Paru-paru
  2. Tuberkuloma – Massa yang keras dan bulat, dengan ukuran bervariasi antara diameter 2 -10 cm.
  3. Aspergilloma – Bola jamur terdiri dari hifa Aspergillus. Suatu jenis aspergillosis paru kronis
  4. Jaringan parut atau fibrosis paru-paru – Jaringan paru-paru yang menebal dan kaku akibat kerusakan paru-paru. Memburuknya fibrosis menyebabkan sesak napas.
  5. Bronkiektasis – Kondisi jangka panjang dari pelebaran saluran udara dan penumpukan lendir.
  6. Stenosis trakeobronkial – Penyempitan trakea yang menghalangi pernapasan.
  7. Bronkolitiasis – Kalsifikasi bronkiolus yang menyebabkan peradangan dan obstruksi.
  8. Uveitis posterior atau anterior – Peradangan pada iris dan/atau badan siliar di mata.
  9. Koroiditis – Koroid mata yang meradang.
  10. Neuropati optik – Pembengkakan saraf optik.
  11. TB Ginjal – Tuberkulosis yang menyerang ginjal
  12. Stenosis ureter – Penyempitan uretra
  13. Hidronefrosis – Pembengkakan dan peregangan ginjal karena penumpukan
  14. Komplikasi kebidanan yang dapat dilihat pada kehamilan meliputi:  Peningkatan angka aborsi spontan, Pertambahan berat badan yang kurang pada kehamilan, Persalinan prematur (persalinan awal),  Berat lahir berkurang, Meningkatnya kematian neonatal.
  15. Komplikasi tuberkulosis pada kehamilan dapat diperparah oleh keterlambatan diagnosis sebanyak empat kali lipat, dengan peningkatan risiko prematur sebanyak sembilan kali lipat.

Penata laksanaan

Pengobatan pada Infeksi TB Laten (LTBI) – Isoniazid (INH) yang diberikan setiap hari atau dua kali seminggu selama 9 bulan adalah rejimen standar untuk pengobatan LTBI pada wanita hamil. Wanita yang mengonsumsi INH juga harus mengonsumsi suplemen piridoksin (vitamin B6). Regimen 12 dosis INH dan Rifapentine (RPT) tidak dianjurkan untuk wanita hamil atau wanita yang akan hamil dalam 3 bulan ke depan. Penyakit TBC – Wanita hamil harus memulai pengobatan segera setelah TB dicurigai. Regimen pengobatan awal yang lebih disukai adalah INH, rifampisin (RIF), dan etambutol (EMB) setiap hari selama 2 bulan, diikuti oleh INH dan RIF setiap hari, atau dua kali seminggu selama 7 bulan (untuk total 9 bulan pengobatan). Streptomisin tidak boleh digunakan karena terbukti memiliki efek berbahaya pada janin. Dalam kebanyakan kasus, pirazinamid (PZA) tidak dianjurkan untuk digunakan karena pengaruhnya terhadap janin.

Infeksi HIV terhadap Ibu hamil yang terinfeksi HIV yang dicurigai menderita penyakit TBC harus segera diobati. Regimen pengobatan TB untuk ibu hamil yang terinfeksi HIV harus mencakup rifamycin. Meskipun penggunaan rutin PZA selama kehamilan tidak dianjurkan di Amerika Serikat, manfaat rejimen pengobatan TB yang mencakup PZA untuk ibu hamil yang terinfeksi HIV mungkin lebih besar daripada potensi risiko yang belum ditentukan pada janin. Obat-obatan dikontraindikasikan pada wanita hamil: Streptomisin, Kanamisin, Amikasin, Kapreomisin, Fluoroquinolon.

Wanita yang sedang dirawat untuk TB yang resistan terhadap obat harus menerima konseling mengenai risiko pada janin karena risiko anti tuberkulosis lini kedua yang diketahui dan tidak diketahui. Menyusui tidak dianjurkan untuk wanita yang diobati dengan obat anti tuberkulosis lini pertama karena konsentrasi obat ini dalam ASI terlalu kecil untuk menghasilkan toksisitas pada bayi baru lahir yang menyusu. Untuk alasan yang sama, obat dalam ASI bukanlah pengobatan yang efektif untuk penyakit TB atau LTBI pada bayi menyusu. Wanita menyusui yang mengonsumsi INH juga harus mengonsumsi suplemen piridoksin (vitamin B6).

Pengobatan Tuberkulosis

Obat anti-tuberkulosis dikembangkan lebih dari 40 tahun yang lalu, dan pengoptimalannya

• Bayi yang lahir dari ibu yang terkena TB mungkin memiliki berat lahir yang lebih rendah daripada mereka yang lahir dari wanita tanpa TB dan, dalam keadaan yang jarang, bayi mungkin lahir dengan TB. Penularan TB dari ibu ke anak dapat terjadi terjadi oleh darah melalui vena umbilikalis dan menelan yang terinfeksi

air ketuban. Infeksi TB pasca persalinan juga dapat terjadi melalui aerosol menyebar, atau melalui ASI yang terinfeksi jika payudara terkena lesi tuberkulosis aktif.

• Ibu dengan TB mengalami peningkatan risiko kelahiran prematur dan

kematian perinatal

• Ibu hamil yang terinfeksi TBC juga lebih mungkin tertular penyakit lain komplikasi dengan hipertensi yang paling umum. Wanita hamil yang imunologinya lemah juga berisiko terkena wanita tuberkulosis kelamin. Tuberkulosis genital juga dapat menyebabkan ektopik kehamilan, di mana sel telur yang telah dibuahi menanamkan dirinya di luar rahim  kebanyakan di tuba falopi. Hal ini dapat menyebabkan pecahnya tabung, sehingga membahayakan nyawa ibu. Tuberkulosis adalah salah satunya penyebab utama kematian ibu. Dan di sisi lain, TB genital dapat terjadi juga menyebabkan kemandulan pada wanita. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan situasi tersebut sangat berisiko menempatkan pasien pada risiko yang lebih tinggi. Oleh karena itu sebagai penyedia layanan primer bagi wanita usia subur adalah tanggung jawab ginekolog untuk mengidentifikasi wanita yang berisiko terkena tuberkulosis atau mereka yang sebelumnya pernah terpapar TB. Inisiasi pengobatan TB sejak dini tanggung jawab ginekolog untuk mengidentifikasi wanita yang berisiko terkena tuberkulosis atau mereka yang sebelumnya pernah terpapar TB. Inisiasi pengobatan TB sejak dini kehamilan umumnya terkait dengan hasil ibu dan bayi yang lebih baik. Meskipun obat yang digunakan dalam rejimen pengobatan awal untuk TB melintasi plasenta, mereka tampaknya tidak memiliki efek berbahaya pada janin.

Nutrisi Ginjal

1 . Rekomendasi Nutrisi Untuk Individu Dengan GGK (Gagal Ginjal Kronik)

Pilih buah dan sayuran rendah potasium, seperti anggur, selada, kacang hijau, dan mentimun. Pilih makanan rendah potasium seperti pasta, nasi, tortilla. Dan hindari makanan tinggi kalium, seperti susu, pisang, bayam, tomat, dan brokoli.

Contoh Menu makanan.

1. Sarapan Jus Cranberry, 4 ons Telur atau pengganti telur ½ cangkir Roti panggang putih atau gandum utuh (2 potong), Mentega/margarin atau olesan buah, Kopi 6 ons.

2. Makana siang Sandwich salad tuna dibuat dengan 3 ons tuna di atas roti gulung keras dengan selada dan mayones. Selada kol, Pretzel ( rendah garam), Persik kalengan dan tiriskan, ½ cangkir Ginger Ale, 8 ons ( Minuman cola mengandung fosfor yang tinggi. Pilih minuman ginger ale atau lemon-lime sebagai gentian.)

3. Makana Malam Patty hamburger, 4 ons roti dengan 1-2 sendok the saus tomat, Slada ( 1 cangkir) : selada, mentimun, lobak, paprika, dengan saus minyak zaitun dan cuka Limun, 8 ons Targetkan setidaknya 2-3 kali makan “ikan” setiap minggu. Banyak ikan kaya akan lemak “omega-3” yang menyehatkan jantung. Tuna, salmon, dan kerrang adalah pilihan protein sehat jantung yang sangat baik . Camilan/ Makanan Penutup Susu, 4 ons Sepotong pai apel. Cara Mengetahui Makanan Yang Di Konsumsi Dengan Benar Agar Tetap Sehat Makan dengan baik membantu tetap sehat. Makan dengan buruk dapat meningkatkan kemungkinan anda sakit dan memengaruhi perasaan anda. Ahli diet anda akan berbicara dengan anda tentang seberapa baik anda makan dan akan membantu anda menyesuikan pola makan dengan kebutuhan pribadi anda berdasarkan laporan lab dan percakapan dangan anda.Bagaimana Dengan penderita Kolesterol ? Mengubah pola makan dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Ahli diet akan berbicara tentang jenis lemak dan makanan hewani yang dimakan. Meningkatkan asupan buah dan sayuran rendah kalium, mengurangi jumlah makanan yang digoreng, selain aktivitas fisik 150 menit perminggu dapat membantu memperbaiki kadar kolestrol. Bagaimana untuk penderita Diabetes ?Pada awalnya, diet ginjal dan diet diabetes tampak sangat berbeda, tetapi keduanya serupa dalam banyak hal. Kedua diet tersebut merekomendasikan makan 3 makanan seimbang, menghindari protein memiliki setidaknya 3 kelompok makanan (protein, biji-bijian, sayuran, buah-buahan, dan susu). Diet ginjal membatasi jumlah susu yang anda minuman, tetapi banyak penderita diabetes sudah membatasi susu hingga 4 ons sehari. Kedusanya merekomendasikan ½ piring sayur, ½ piring makanan kaya karbohidrat, ¼ piring makanan berprotein tinggi, dan sepotong buah. Diet ginjal dan diabetes membantu menjaga Kesehatan jantung anda.

2. Pantangan makanan untuk pasien dialisis

Pilih buah dan sayuran rendah potasium. Ini termasuk termasuk hal-hal seperti anggur, nanas, selada, kacang hijau, dan mentimun. Pilih makanan rendah potasium seperti pasta, mie, nasi, tortilla, dan bagel. Dan hindari makanan tinggi kalium, termasuk hal-hal seperti susu, pisang, jeruk, bayam, tomat, dan brokoli.Kurangi potasium dan fosfor. Hindari selain kacang-kacang, biji-bijian, kacang kering. Meskipun ini tinggi protein, mereka juga tinggi potasium dan fosfor. Gunakan lebih sedikit garam. Ini dapat membantu mengontrol tekanan darah dan mengurangi penambahan berat badan di antara sesi dialysis. Gunakan herbal, rempah-rempah. Hindar pengganti garam yang dibuat dengan potasium. Hindari gandum utuh dan makanan berserat tinggi seperti roti gadum, sereal bekatul, dan beras merah untuk membantu membatasi asupan fosfor. Batasi asupan susu, yogurt, dan keju. Ini sangat tinggi fosfor. Membatasi makanan berbahan dasar susu melindungi tulang dan pembuluh darah. Membatasi potasium melindungi jantung. Pilih apel dan beri dari pada jeruk dan pisang Semua sayuran memiliki beberapa potasium. Pilih brokoli dan kubis dari pada kentang dan asparagus. Makan lebih banyak makanan berprotein tinggi. Kurangi konsumsi makanan tinggi garam, tinggi kalium, dan tinggi fosfor, Perbanyak minum air putih. Orang yang menjalani dialisis perlu makan lebih banyak protein. Protein dapat membantu menjaga kadar protein darah yang sehat dan meningkatkan kesehatan. Protein juga membantu menjaga otot tetap kuat, membantu luka sembuh lebih cepat, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan membantu meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Makan makanan berprotein tinggi ( daging, ikan, unggas, babi segar, atau telur) setiap kali makan, atau sekitar 8-10 ons makanan berprotein tinggi setiap hari. 3 ons = seukuran setumpuk kartu, potongan daging babi sedang, patty ¼ pon, ½ dada ayam, fillet ikan sedang. 1 ons = 1 butir telur atau ¼ cangkir pengganti telur, ¼ cangkir tuna, ¼ cangkir keju ricotta, 1 iris daging makan siang rendah sodium, 1 sendok makan selai kacang, ½ ons kacang atau biji-bijian. Catatan : Meskipun selai kacang, kacang-kacangan, biji-bijian, buncis kering, dan kacang polomg mengandung protein, makanan ini umumnya dibatasi karena tinggi potasium dan fosfor.

Kenali Jantungmu untuk Mengenal Ginjalmu USG Jantung Untuk Ahli Nefrologi

Gagal Ginjal


Utilitas Klinis USG Jantung Dasar
Mirip dengan alat diagnostik lain dalam kedokteran. Pandangan dasar jantung dapat digunakan untuk menjawab dengan cepat pertanyaan klinis yang umum ditemui di bidang nefrologi, yang paling penting adalah penilaian kualitatif terhadap fungsi LV, ukuran/fungsi ventrikel kanan (RV), dan efusi perikardial. Fungsi sistolik ventrikel kiri—Disfungsi sistolik ventrikel kiri (LVSD) memiliki implikasi diagnostik dan prognostik yang penting bagi ahli nefrologi. CKD merupakan faktor risiko independen terhadap gangguan fungsi sistolik dan diastolik ventrikel kiri pada anak-anak. Fungsi ventrikel kanan—Gagal jantung kanan disebabkan oleh kelebihan tekanan/volume sisi kanan atau cedera RV langsung akibat trauma atau infark. Hal ini dapat menjadi penyebab sindrom kardio-renal yang belum diketahui. Efusi perikardial—Efusi perikardial didefinisikan sebagai akumulasi cairan yang melebihi jumlah normal 50 mL dari jumlah fisiologis dalam ruang perikardial. Etiologi efusi perikardial beragam dan mencakup keganasan, trauma, infeksi, inflamasi, dan kondisi autoimun. Tamponade jantung harus dicurigai pada pasien dengan hemodinamik tidak stabil dengan efusi perikardial sirkumferensial. Patologi katup—Pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang lebih mungkin mengalami kelainan katup aorta dan mitral yang relevan secara hemodinamik akibat perubahan metabolisme kalsium. Kondisi akut yang skriningnya dapat bermanfaat bagi ahli nefrologi mencakup edema paru yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya dan gagal jantung akibat penyakit baru tersebut


DILUAR DASAR: USG JANTUNG LANJUTAN UNTUK NEFROLOGI
Kompetensi dalam Focus dapat dicapai dengan memahami prinsip-prinsip dasar ekokardiografi 2-D setelah pelatihan singkat.

Prinsip Doppler
Di ACUS, Doppler dianggap sebagai bahasa aliran darah. Sesuai dengan prinsip Doppler, frekuensi gelombang balik berubah ketika benda yang memantulkan gelombang (darah atau miokardium) dan sumber gelombang (transduser) bergerak saling berhubungan. Pergeseran Doppler positif atau peningkatan frekuensi gelombang ultrasonik yang kembali terlihat saat aliran darah menuju transduser, dan pergeseran Doppler negatif atau penurunan frekuensi gelombang ultrasonik yang kembali terlihat saat gelombang tersebut menjauh.


Jenis Doppler
Ada dua tipe dasar USG Doppler – gelombang kontinu dan gelombang berdenyut. Seperti namanya, gelombang kontinu Doppler terus menerus mengirim dan menerima gelombang ultrasonik, sedangkan gelombang Doppler berdenyut bergantian antara transmisi dan penerimaan gelombang ini. Akuisisi dan interpretasi gambar secara real-time dapat dilakukan secara serial untuk pasien yang menjalani terapi penggantian ginjal di rawat inap dan rawat jalan. ACUS memiliki beberapa aplikasi praktis yang berkaitan dengan ahli nefrologi seperti pengukuran curah jantung, respons volume, tekanan sistolik ventrikel kanan (RVSP), disfungsi diastolik LV, fisiologi tamponade, kelainan gerakan dinding regional yang diinduksi hemodialisis, dan pengukuran aliran transvalvular untuk menilai dinamika kelainan selama ultrafiltrasi.

BATASAN USG JANTUNG
Temuan USG jantung mungkin tidak spesifik dan paling berguna bila digunakan untuk menjawab pertanyaan klinis spesifik dalam skenario klinis tertentu. Kurangnya praktik langsung dan interpretasi gambar berkualitas buruk yang tidak sesuai sumbu dapat menyebabkan kesimpulan yang salah dan berdampak negatif pada pengambilan keputusan klinis.


RINGKASAN KLINIS
Penyakit kardiovaskular sangat umum terjadi pada pasien CKD dan pengetahuan tentang USG jantung terfokus memungkinkan ahli nefrologi menilai ukuran dan fungsi ventrikel, efusi perikardial, dan kelebihan volume secara andal. Prinsip dasar dan penerapan USG jantung dapat dipelajari secara efektif dan digunakan sebagai bagian dari pemeriksaan fisik oleh non-kardiolog setelah pelatihan singkat.


KESIMPULAN
FoCUS semakin dikenal sebagai alat diagnostik penting di beberapa disiplin ilmu klinis, termasuk nefrologi. pemeriksaan FoCUS dilakukan dan menunjukkan efusi perikardial yang besar, IVC yang banyak, dan kolaps diastolik dinding bebas RV yang menunjukkan fisiologi tamponade.

Penyakit Kardiovaskular

Definisi
Pencegahan penyakit kardiovaskular (CVD) didefinisikan sebagai serangkaian tindakan terkoordinasi, pada tingkat populasi atau ditargetkan pada individu, yang bertujuan untuk menghilangkan atau meminimalkan dengan cara memperkirakan risiko kardiovaskular total MPAK CVD dan kecacatan terkait. CVD masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas.
Cara memperkirakan risiko kardiovaskular total
Pada orang yang tampak sehat, risiko CV secara umum disebabkan oleh berbagai faktor risiko yang saling berinteraksi. Hal ini merupakan dasar dari pendekatan total CV risk dalam pencegahan. Ada orang yang tampak sehat, risiko CV secara umum disebabkan oleh berbagai faktor risiko yang saling berinteraksi. Hal ini merupakan dasar dari pendekatan total CV risk dalam pencegahan.
SCORE, yang memperkirakan risiko penyakit kardiovaskular yang fatal dalam 10 tahun, direkomendasikan untuk penilaian risiko dan dapat membantu dalam membuat keputusan manajemen yang logis dan dapat membantu menghindari pengobatan yang kurang dan berlebihan.
Risiko kardiovaskular sepuluh tahun
Banyak sistem penilaian risiko CV tersedia untuk digunakan pada individu yang tampaknya sehat, termasuk Framingham, SCORE, ASSIGN (model estimasi risiko CV dari Scottish Intercollegiate Guidelines Network), Q-Risk, PROCAM (Prospective CardiovaskularMunster Study ),CUORE, persamaan Pooled Cohort, Arriba dan Globorisk.
Sistem SCORE memperkirakan risiko 10 tahun terjadinya kejadian aterosklerotik fatal yang pertama.
Semua kode Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) yang dapat diasumsikan sebagai aterosklerotik disertakan, termasuk CAD, stroke, dan aneurisma aorta perut. Secara tradisional, sebagian besar sistem hanya memperkirakan risiko CAD; namun, baru-baru ini sejumlah sistem estimasi risiko telah berubah untuk memperkirakan risiko semua CVD.
Usia risiko kardiovaskular
Usia risiko seseorang dengan beberapa faktor risiko CV adalah usia seseorang yang berjenis kelamin sama dengan tingkat risiko yang sama namun dengan tingkat faktor risiko yang ideal.
Oleh karena itu, usia 40 tahun dengan beberapa faktor risiko tingkat tinggi mungkin memiliki usia risiko yang sama dengan usia 60 tahun, karena risikonya sama dengan usia 60 tahun dengan tingkat faktor risiko ideal (yaitu non-faktor risiko).
merokok, kolesterol total 4 mmol/L dan tekanan darah 120 mmHg.  Usia berisiko adalah cara yang intuitif dan mudah dipahami untuk menggambarkan kemungkinan penurunan harapan hidup yang akan dialami oleh orang muda dengan risiko CVD absolut rendah namun relatif tinggi jika melakukan pencegahan, namun tindakan-tindakan tersebut tidak dilakukan.
Usia risiko juga dihitung secara otomatis sebagai bagian dari HeartScore revisi terbaru.
Estimasi risiko kardiovaskular seumur hidup vs 10 tahun
Skema prediksi risiko CV konvensional memperkirakan risiko CV events dalam 10 tahun.
Model prediksi risiko CV seumur hidup mengidentifikasi individu yang berisiko tinggi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Model tersebut memperhitungkan risiko yang diprediksi dalam konteks persaingan risiko penyakit lain selama sisa umur seseorang.
Pemeriksaan Penunjang
1. USG karotis
Penelitian berbasis populasi telah menunjukkan korelasi antara tingkat keparahan aterosklerosis di satu wilayah arteri dan keterlibatan arteri lainnya. Oleh karena itu, deteksi dini penyakit arteri pada individu yang tampaknya sehat difokuskan pada arteri perifer, dan khususnya pada arteri karotis. Penilaian risiko menggunakan USG karotidul berfokus pada pengukuran ketebalan intima-media (IMT) serta keberadaan dan karakteristik plak.
2. Kekakuan arteri
Kekakuan arteri biasanya diukur menggunakan kecepatan gelombang denyut aorta (PWV) atau indeks augmentasi arteri.
Peningkatan kekakuan arteri biasanya berhubungan dengan kerusakan pada dinding arteri, seperti yang ditunjukkan pada pasien hipertensi. Meskipun hubungan antara kekakuan aorta dan CVD terus berlanjut, ambang batas PWV sebesar 12m/s telah disarankan sebagai perkiraan konservatif mengenai perubahan signifikan pada aorta.
3. Indeks pergelangan kaki-brakialis
Indeks pergelangan kaki-brakialis (ABI) adalah tes yang mudah dilakukan dan dapat direproduksi untuk mendeteksi penyakit aterosklerotik tanpa gejala.
4. Ekokardiografi
Ekokardiografi lebih sensitif dibandingkan elektrokardiografi dalam mendiagnosis hipertrofi ventrikel kiri (LVH) dan secara tepat mengukur massa ventrikel kiri (LV) dan pola geometris LVH. Kelainan jantung yang terdeteksi oleh ekokardiografi mempunyai kekuatan prediktif tambahan. Mengingat kurangnya bukti yang meyakinkan bahwa ekokardiografi meningkatkan reklasifikasi risiko CV, dan karena tantangan logistik dalam melakukan hal tersebut, alat pencitraan ini tidak direkomendasikan untuk meningkatkan prediksi risiko CV.

Hipertensi dan Gangguan Kerja Jantung pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik

Definisi
Sebagian besar konsekuensi klinis penyakit jantung disebabkan oleh kardiomiopati (atau) penyakit jantung iskemik.
Kardiomiopati dapat bermanifestasi sebagai ventrikel kiri (LV) yang membesar dan melebar dengan sistolik
disfungsi (atau) sebagai ventrikel hipertrofik dengan disfungsi diastolik, dengan atau tanpa iskemia miokard.
Hal ini juga menjadi bukti bahwa struktur arteri besar dapat diubah, tidak hanya oleh aterogenesis, tetapi juga oleh arteriosklerosis.
Arteriosklerosis berkontribusi langsung terhadap gejala iskemik, hipertrofi ventrikel kiri, dan disfungsi sistolik dengan meningkatkan beban kerja jantung. Hipertrofi ventrikel kiri terjadi pada sebagian besar kasus gagal ginjal berat dan terdapat disfungsi diastolik dengan atau tanpa fungsi sistolik normal.
Penyakit jantung juga bisa disebabkan oleh perkembangan penyakit katup jantung. Sebagian besar lesi katup yang diamati pada pasien dengan CRF diperoleh dan berkembang dari kalsifikasi distrofi anulus dan daun katup, khususnya katup aorta dan mitral. Kalsifikasi seperti ini kini diketahui jauh lebih sering terjadi dibandingkan yang diketahui sebelumnya, dengan prevalensi hingga 55%, pada aorta. Katup dan 39% untuk katup mitral (Foley RN, Parfrey PS dkk, Am J Kidney Dis, 1998 dan London GM dkk J Am Soc Nephrol, 2000).
Hipertrofi LV sudah terlihat pada 40% pasien dengan insufisiensi ginjal sedang dan pada 75% pasien yang memulai dialisis (Levin A, Singer J, Thompson CR, dkk, 1995). Kedua bentuk hipertrofi LV (konsentris dan eksentrik) berhubungan dengan peningkatan risiko kematian pada pasien CRF.
Faktor risiko terkait, termasuk hipertensi, diabetes, penggunaan tembakau, dan anemia merupakan predisposisi terhadap perkembangan kardiomiopati simtomatik yang jauh lebih cepat. (Levin A, Thompson CR, 1999).
Pasien-pasien tersebut menunjukkan insiden kelainan kardiovaskular yang lebih tinggi pada tahap awal CRF dan pada usia yang lebih muda, sering kali bergejala atau menunjukkan morbiditas yang signifikan sebelum mencapai fungsi ginjal tahap akhir.
Penyebab
Karena kelebihan volume merupakan penyebab utama hipertensi pada uremia, keadaan normotensi sering dapat dipulihkan dengan penggunaan pembatasan garam dan obat natriuretik atau ultra filtrasi yang tepat (tidak berlebihan) dalam pengaturan dialisis.
Faktor Risiko
Faktor risiko tradisional termasuk hipertensi, hipervolemia, dislipidemia, aktivitas simpatik, dan hiperhomosisteinemia. Risiko terkait CKD meliputi anemia, hiperfosfatemia, hiperparatiroidisme, dan keadaan “peradangan mikro” yang dapat ditemukan pada semua tahap CRF namun tidak diragukan lagi diperparah dengan dialisis.
Keadaan inflamasi menimbulkan peningkatan reaktan fase akut seperti IL-6 dan CRP, yang berkontribusi terhadap proses oklusif koroner dan merupakan prediktor risiko penyakit kardiovaskular. Kelainan lain menambah iskemia miokard. Hal ini termasuk berkurangnya toleransi miokard terhadap iskemia akibat hipertrofi ventrikel kiri dan penyakit mikrovaskuler.
Nitric oxide adalah mediator penting untuk dilatasi pembuluh darah. Ketersediaannya dalam CRF menurun karena peningkatan konsentrasi dimetil
– l – arginin asimetris, bahkan pada tahap awal CRF dan juga karena oksida nitrat diambil oleh spesies O2 reaktif. Selain itu, hipertrofi/hiperplasia arteriol koroner membatasi kapasitas vasodilatasi.
Kelainan Fungsional
Penilaian kelainan fungsi ventrikel kiri pada pasien CRF seringkali sulit. Tidak adanya gejala tidak berarti cadangan fungsional tetap utuh, apa pun stadium penyakitnya. Kesulitan dapat ditemui ketika mencoba membedakan secara klinis antara disfungsi sistolik dan diastolik karena beberapa kondisi patologis sering muncul secara bersamaan, walaupun biasanya satu kondisi tertentu mendominasi dalam konteks klinis.
Disfungsi Sistolik
Fungsi sistolik saat istirahat biasanya normal atau bahkan meningkat pada pasien dengan penyakit ginjal lanjut tanpa adanya penyakit jantung sebelumnya. Namun, penurunan fungsi sistolik sering diamati pada pasien yang penyakit jantungnya sudah ada sebelum dimulainya terapi dialisis dan pada pasien yang mengalami kelebihan hemodinamik yang berkepanjangan dan nyata. Sekitar 15% pasien mengalami disfungsi sistolik pada saat mereka memulai dialisis. (Foley RN, Parfrey PS et al, 1995) Berkurangnya kontraktilitas miokard juga mungkin disebabkan oleh kardiomiopati yang berlebihan, dimana miokardium bergantung pada kekuatan jalak untuk mempertahankan output normal. Manifestasi kardiomiopati memiliki prognosis yang jauh lebih buruk dibandingkan hipertrofi konsentris LV atau dilatasi LV dengan fungsi sistolik normal.
Pada pasien dialisis, disfungsi sistolik sangat terkait dengan adanya penyakit jantung iskemik atau stres biomekanik yang berkelanjutan atau keduanya. Namun, penyakit ini juga bisa menjadi manifestasi uremia berat yang reversibel, dan akan mereda jika lingkungan uremik dihilangkan. Serum uremik telah ditemukan mengurangi kekuatan kontraksi miosit yang dikultur dengan cara yang bergantung pada konsentrasi. (Weusenee D Low – Friedrich I dkk : Pendekatan invitro terhadap “Kardiomiopati Uremik”, Nephron, – 1993).
Transplantasi ginjal juga terbukti menormalkan fungsi sistolik pada pasien dialisis dengan disfungsi sistolik dan selanjutnya menurunkan tetapi tidak menormalkan indeks massa ventrikel kiri.
Disfungsi Diastolik
Derajat gangguannya mungkin lebih besar dibandingkan pasien dengan penyakit jantung hipertensi, namun lebih ringan dibandingkan pasien dengan kardiomiopati hipertrofik. Pengisian ventrikel yang abnormal pada uremia diakibatkan oleh peningkatan kekakuan ventrikel kiri yang disebabkan oleh fibrosis intramiokard dan terkait dengan relaksasi tertunda. Karena peningkatan kekakuan ventrikel kiri, perubahan kecil pada volume akan menyebabkan perubahan besar pada tekanan ventrikel kiri, yang merupakan predisposisi timbulnya gejala edema paru. Hal sebaliknya juga terjadi: deplesi volume mengakibatkan penurunan tekanan ventrikel kiri secara signifikan disertai gejala hipotensi dan ketidakstabilan hemodinamik. (Ritz E, Rambausek M, dkk, 1990) Hal ini sering kali menjadi ciri disfungsi diastolik.
Hemodinamik hipertensi pada Gagal Ginjal Kronis
Hipertensi merupakan penyebab sekaligus komplikasi gagal ginjal. Ini adalah salah satu komplikasi CRF yang paling serius.
Ini adalah faktor risiko utama untuk CCF, CVA, CAD.
Uji klinis dan studi epidemiologi menunjukkan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal progresif. Evaluasi terhadap subjek yang disaring dalam uji coba intervensi faktor risiko ganda yang dipantau selama periode 16 tahun menunjukkan hal tersebut
Tekanan darah yang lebih tinggi merupakan faktor risiko yang kuat dan independen terhadap perkembangan ESRD dan
Risiko relatif terjadinya ESRD meningkat seiring dengan peningkatan tekanan darah sistolik yang tidak bergantung pada tekanan darah diastolik. Tidak adanya hipertensi mungkin menandakan adanya bentuk penyakit ginjal yang membuang garam seperti penyakit kistik meduler, penyakit interstisial tubulo kronis, atau nekrosis papiler dan terapi antihipertensi yang sedang berlangsung, penurunan volume karena penyebab gastrointestinal (atau) terapi diuretik, atau penurunan indeks jantung.

Add to cart